Sunday, August 8, 2010

Syekh Nazim & Abah Anom

Pidato Syekh Nazim saat berjumpa Abah Anom di Suryalaya.

Saat itu saya bertindak sebagai penerjemahnya.

1. Hamdalah, sholawat, do’a untuk seluruh yang hadir, maupun muslimin/muslimat seluruhnya.

2. Kalau saya berbicara dalam bahasa Inggris tentu hanya sedikit orang yang faham, maka saya membutuhkan perterjemah. Sebenarnya saya ingin berbicara panjang lebar, tetapi orang-orang yang hadir sudah letih menunggu dan punya kepentingan-kepentingan yang lain. Maka saya akan berbicara kurang lebih setangah jam saja.

3. Kita saat ini hidup di zaman sulit dan serba kekurangan. Kekurangan orang-orang yang kuat, kekurangan orang-orang yang memiliki iman, kekurangan orang yang memiliki cahaya (nur) ilahi. Padahal tanpa nur Ilahi, segala kepandaian yang dimiliki manusia menjadi tidak ada apa-apanya.

4. Banyak ‘ulama dan cendikiawan di berbagai madrasah dan mejelis ilmu mengajarkan macam-macam ilmu pengetahuan. Tapi ilmu pengetahuan itu hanya ibarat lilin-lilin kecil saja dan menjadi tak berguna tanpa adanya api yang membawa cahaya. Meskipun orang membuat lilin-lilin sebesar pohon-pohon kelapa, apa artinya lilin-lilin itu kalau tidak dapat menerangi. Maka selain mencari lilinya, cari pula apinya yang menimbulkan cahaya.

5. Allah adalah cahaya langit dan bumi. Cahaya Allah disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW. lalu meneruskannya kepada para Sahabatnya dan para sahabatnya meneruskannya lagi kepada generasi-generasi sholih berikutnya. Dari mereka cahaya itu terus tersalurkan kepada orang-orang yang “siap” dan “mau” menerimanya. Itulah para mursyid thoriqoh. Ada 41 thariqoh di dunia, 40 diantaranya memperoleh Nur Ilahi melalui Sayyidina Ali bin Abi Tholib KW. Hanya satu yang memperoleh Nur Ilahi melalui Sayyidina Abu Bakar as-Shadiq, itulah thariqah Naqsyabandiyyah.

6. Sekarang, tidak banyak lagi orang-orang yang membawa obor Nur Ilahi itu. Di Indonesia yang penduduknya banyak inipun, orang pembawa obor Nur Ilahi tidak lebih dari sepuluh jari tangan jumlahnya. salah satunya adalah Beliau yang ada disebelah saya, Syekh Ahmad Shohibulwafa Tajul ‘Arifin.

7. Syekh Ahmad Shohibulwafa Tajul ‘Arifin ini sudah berusia lanjut, dan sudah agak lemah keadaan fisiknya. Saya tidak tahu apakah Nur Illahi yang dibawanya akan putus sampai pada beliau saja, atau masih akan berlanjut pada orang lain. Tapi saya yakin dan berharap, sesudah beliau nanti masih akan ada orang lain yang menjadi pembawa Nur Illahi itu. Siapakah orangnya, saya tidak tahu.

8. Maka Anda sekalian para hadirin, ambillah Nur Illahi itu dari beliau saat ini. Mumpung beliau masih ada, mumpung beliau masih hadir di tengah kita, sulutkan Nur Illahi dari kalbu beliau kepada kalbu anda masing-masing.

9. Orang yang hidup di dunia tanpa Nur Illahi adalah orang yang buta. Dan (Syekh Nazim mengutip al-Qur’an), “Barang siapa yang didunia ini buta, maka di akhiratnya pun akan buta”. Sekali lagi, dapatkanlah Nur Ilahi dari orang-orang seperti Syekh Ahmad Shohibulwafa Tajul ‘Arifin.

10. Beliau (Syekh Ahmad Shohibulwafa Tajul ‘Arifin) nampaknya saja tertunduk dan tidur. Sebetulnya beliau tidak tidur. Dari kalbu beliau terpancar pesan-pesan kepada kalbu saya. Saya berbicara dan menyampaikan semua pesan ini bukan dari isi kalbu saya sendiri. Saya mengambilnya dari kalbu beliau. Di hadapan beliau saya terlalu malu untuk tidak mengambil apa yang ada pada kalbu beliau. Saya malu untuk berbicara hanya dengan apa yang ada pada kalbu saya sendiri.

11. Demikianlah apa yang saya perlu saya sampaikan kepada anda semua. (Lalu Syekh Nazim menutup pembicaraannya dengan tahlil, sholawat dan do’a). Saya tuliskan point-point ceramah Syekh Nazim ini berdasarkan sisa ingatan saya ketika mendengar dan menterjemahkan pidato beliau empat hari setelah kejadian, sepulang saya dari Medan. Tentu saja ada banyak kekeliruan ataupun kekurangannya. Saya mohon maaf, dan kepada Allah Swt., saya bersimpuh memohon ampun. Jakarta09 Mei 2001**

Saturday, March 21, 2009

Salam Untuk Wali Mursyid

السَّلَامُ عَلَيْكَ –

Salam untukmu ---

يَا مَالِكَ الزَّمَانِ

wahai penguasa zaman,

وَ يَا إِمَامَ الْمَكَانِ

pemimpin wilayah,

وَ يَا قَائِمَ بِأَمْرِ الرَّحْمَانِ

penegak ketentuan ar-Rahman,

وَ يَا وَارِثَ الْكِتَابِ

pewaris kitab,

وَ يَا نَائِبَ الرَّسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ

wakil Rasulullah s.a.w.,

يَا مَنْ مِنَ السَّمَاءِ وَ الْأَرْضِ عَائِدَتُهُ

yang selalu pergi pulang antara bumi dan langit,

يَا مَنْ أَهْلَ وَقْتِهِ كُلُّهُمْ عَائِلَتُهُ

yang orang-orang sezamannya adalah keluarganya,

يَا مَنْ يُنَـزَّلُ الْغَيْثُ بِدَعْوَتِهِ

yang diturunkan pertolongan karena doanya,

وَ يُدَرُّ الضَّرْعُ بِبَرَكَتِهِ -

yang dikucurkan limpahan susu karena keberkahannya ---

وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ - الْفَاتِحَةُ

beserta rahmat Allah dan keberkahanNya, al-Fatihah…

Muslim Indonesia dan Dunia

  • Ratio penduduk Indonesia/penduduk Dunia: 3,85%
  • Ratio muslim Indonesia/muslim Dunia: 15%
  • Ratio muslim Indonesia/penduduk Dunia: 3,3%

Wednesday, October 31, 2007

Orang-orang Yang Tertipu

Source: www.radix.co.id / www.qalbu.net

Berfikir yang baik adalah yang objektif, artinya pemikir tidak melibatkan perasaan dan pengalamannya dengan obyek yang difikirkan. Obyek selalu berada di luar diri pemikir dan pemikir tidak masuk kedalam obyek. Filosof yang baik adalah pemikir yang selalu membuat jarak dengan obyek fikirannya, ia cukup “to sit and to think from outside”.

Berbeda dengan seorang sufi, ia melibatkan perasaannya, berjalan mendekat dan menyatu dengan obyek untuk “mengalami” obyeknya, bahkan ia “menjadi” (seperti) obyeknya. Menjadi sufi berarti harus “to walk, to experience and to become”. Ada pelibatan diri, penyertaan kesadaran dan perasaan, sehingga sufi tumbuh “menjadi” bersama obyek kesufiannya.

Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 191 dengan jelas membedakan antara fikir dan dzikir.
Dzikir selalu diorientasikan kepada Allah SWT yang transendental, sedangkan fikir selalu diorientasikan kepada ’kejadian-kejadian langit dan bumi’ yang fenomenal. Karena itu, kalau fikir menggunakan pendekatan empirik, struktural dan logik; maka dzikir tidak membatasi dan memang tidak boleh terpaku, pada empirisme, struktur dan logika. Dzikir tidak terpaku pada bentuk dan warna, susunan atau komposisi, serta hubungan-hubungan sebab-akibat. Ia adalah proses dinamis yang dibiarkan mengalir begitu saja seperti arus sungai pegunungan yang menuruni lembah, kadang bergolak bergejolak atau berputar menjadi sebuah turbolensi yang menyedot apa saja yang ada di dekatnya.

Para Sufi sering menyebut berfikir sebagai ”berjalan” dan berdzikir sebagai ”terbang”. Terbang tak menghajatkan adanya langkah-langkah sistematik karena terbang adalah gerak quantum yang melonjak-lonjak, kadang melesat kadang berputar, kadang melayang kadang menukik tajam. Perhatikanlah gerak kupu-kupu yang sedang menari-nari di taman bunga, itulah berdzikir.

Dengan berfikir filosof mencari makna atas obyeknya (hushuli), dengan berdzikir sufi memperoleh makna dari obyeknya (hudhuri). Imam Ghazali letih mencari-cari dengan filsafatnya lalu mendapatkan kesejatian dengan kesufiannya. Ia mengalami ketersingkapan (al-Kasyf) dan mendapatkan kejelasan (at-Tabyîn) dari apa yang selama ini banyak membuat manusia terkecoh (al-Ghurûr). Maka lahirlah bukunya Al-Kasyf wa At-Tabyîn fî Ghurûr Al-Khalqi Ajma’în yang dalam Bahasa Indonesia berarti ”Orang-orang Yang Tertipu”.

Sepanjang orang hanya berfikir orang akan mudah terkecoh. Fikiran memang membuat mata terbuka lebar menangkap pemandangan yang luas, tapi belum tentu membuat jiwa memahami kedalaman makna yang hakiki dari apa yang dilihat dan dikerjakan. Orang-orang yang hanya sibuk berfikir, baik kafir maupun mukmin, tertipu oleh fikirannya. Orang-orang yang bermaksiat dan beramal shalih, banyak yang tertipu oleh kaidah-kaidah syariah yang difikirkannya. Begitu juga dengan ulama dan ahli ibadah, orang-orang kaya, bahkan para sufi pun banyak yang tertipu oleh fikiran dan prasangkanya.

Jangan-jangan Anda juga bisa tertipu...

Thursday, August 2, 2007

Doa Tujuh



إِلَهِيْ أَنْتَ مَقْصُوْدِيْ
Ilâhî Anta maqshûdî
Tuhanku, Engkaulah yang kumaksud..

وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ
Wa ridhâka mathlûbî
Dan ridhaMU yang kucari...

أَعْطِنِيْ مَحَبَّـتَكَ وَ مَعْرِفَتَكَ
A`thinî mahabbataka wa ma`rifataka
Limpahkan daku cintaMU dan makrifahMU


1.
اَللَّـهُمَّ يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ
Allahumma yâ qâdhiya l-hâjât
Wahai Allah, pemenuh segala hajat & kebutuhan…

Hajat kami banyak, ya Allah…
penuhilah hajat dunia kami, juga hajat akhirat kami…

2.
اَللَّـهُمَّ يَا كَافِيَ الْمُهِمَّاتِ

Allahumma yâ kâfiya l-muhimmât
Wahai Allah, pencukup segala kepentingan…

Cukupkanlah kepentingan rumah tangga kami…
Cukupkanlah kepentingan pendidikan anak-anak kami…
Cukupkanlah kepentingan usaha dan pekerjaan kami…
Cukupkanlah kepentingan ibadah kami…
Cukupkanlah bekal kami untuk berhaji,
sebelum mati mendatangi...

3.
اللَّـهُمَّ يَا دَافِعَ الْبَلِيَّاتِ

Allahumma yâ dâfi‘a l-baliyyât
Wahai Allah, penolak segala bala’...
penepis segala bencana…


Jauhkanlah kami dari berbagai bala’ dan bencana…
- bencana natural, maupun bencana moral…
- bencana finansial, maupun bencana spiritual…
Jauhkan kami dari bencana rumah tangga, ya Allah…

4.
اللَّـهُمَّ يَا رَافِعَ الدَّرَجَاتِ
Allahumma yâ râfi‘a d-darajât
Wahai Allah, pengangkat derajat…
peninggi martabat…


Angkatlah derajat dan martabat kami…
Muliakanlah umat Muhammad ini di hadapan umat-umatMu yang lain…
Jangan Engkau perhinakan kami,
hanya karena banyaknya dosa dan maksiat yang kami buat…
Tutuplah segala cacat, aib, cela, dan kekurangan-kekurangan kami…

5.
اللَّـهُمَّ يَا شَافِيَ الْأَمْرَاضِ
Allahumma yâ syâfiya l-amrâdl
Wahai Allah, penyembuh dari segala penyakit…

Sembuhkanlah kami dari penyakit-penyakit jismani…
juga penyakit-penyakit ruhani…
Jauhkanlah kami dari penyakit munafik…

6.
اللَّـهُمَّ يَا مُجِيْبَ الدَّعَوَاتِ

Allahumma yâ mujîba d-da‘awât
Wahai Allah, penjawab segala doa…

Engkau pengabul segala permohonan…
Perkenankanlah segala permintaan kami…
Sampaikanlah anak-cucu kami pada cita-cita dan harapan mereka…

7.
اللَّـهُمَّ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
Allahumma yâa arhama r-râhimîn
Wahai Allah, Maha Penyayang di antara para penyayang

Sayangilah kami ya Allah…
Jadikanlah kami orang-orang yang Engkau cintai,
sekaligus orang-orang yang mampu untuk saling mencintai…
Sebagaimana kami selalu mengharap ampunan dan maaf dariMu…
jadikan pula kami orang-orang yang mampu memaafkan orang lain…
Angkatlah segala marah & iri, benci & dendam,
serta kekecewaan dari diri kami…

Thursday, July 26, 2007

Perjalanan

أَوَلَمْ يَرَوْا كَيْفَ يُبْدِئُ اللَّهُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ ﴿١٩﴾

قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ ثُمَّ اللَّهُ يُنشِئُ النَّشْأَةَ الْآخِرَةَ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ﴿٢٠﴾

"Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (kembali). Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Katakanlah: "Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

<al-`Ankabût / 29:19-20>

Kita diperintahkan untuk melakukan perjalanan untuk benyak menyaksikan tanda-tanda kekuasaan Allah. Diharapkan, dengan menyaksikan hal-hal yang nampak di depan mata, kita akan mengalami 'penyeberangan kesadaran' ke balik dari yang nampak. Itulah proses i`tibâr. Berasal dari kata `abara yang bermakna menyeberang, i`tabara bermakna menyeberangkan diri. I`tibâr adalah proses penyeberangan diri (going beyond, passing through) dari hanya menyadari apa yang terlihat di depan mata menuju ke pemahaman terhadap sebab, hakikat, tujuan, dan hikmah.

Sunday, March 25, 2007

Spiritual Experience?

“We are not human beings having a spiritual experience,
we are spiritual beings having a human experience”.
Teilhard de Chardin

Memang banyak orang menyangka kalau kehadirannya sebagai manusia bermula sejak ia dilahirkan secara biologis, atau setidak-tidaknya sejak ia terbentuk sebagai janin di dalam rahim ibunya. Banyak orang menyangka keberadaan dirinya bermula sebagai keberadaan fisik material. Padahal sesungguhnya manusia adalah makhluk spiritual, yang sudah dicipta di sisi Tuhan jauh sebelum tubuh biologisnya dicipta di bumi. Manusia adalah makhluk langit. Tubuh biologis adalah cangkang yang mewadahi keberadaan manusia selama di muka bumi. Ada saatnya tubuh akan mati, terkubur dan hancur di bumi, menyatu lagi dengan tanah yang menjadi asalnya. Sedangkan sang manusia ruhaniah akan kembali lagi ke Allah penciptanya. Kematian bukan kepergian, tapi kepulangan.

Tak heran kalau dalam masa kehadirannya di bumi manusia lebih banyak memiliki pengalaman-pengalaman spiritual daripada pengalaman biologis yang material. Bahkan pengalaman biologis pun sebenarnya dialami dan dirasakan oleh ruh. Lezatnya makanan adalah sensasi saraf di lidah terhadap komposisi kimiawi makanan, kemudian sensasi itu diteruskan ke otak, lalu otak merefleksikannya ke ruh, dan ruh menginterpretasi dan menamakan sensasi tersebut menjadi rasa. Indahnya lantunan musik adalah gelombang-gelombang suara yang diterima oleh saraf pendengaran, lalu dikonversi menjadi impuls-impuls listrik menuju otak, dan otak merefleksikannya ke jiwa, untuk kemudian jiwa merasakan dan menikmatinya. Semua pengalaman biologis pada dasarnya adalah pengalaman ruhaniah. Semua indera jismani adalah sensor yang mendeteksi rangsang, sedangkan ruh adalah main processor yang mengolah dengan kesadaran, perasaan, nalar, keyakinan, bahkan motivasi dan kemauan. Namun karena kekurang jelian banyak orang menyangka pengalaman-pengalaman biologis adalah otonom, atau terbebas, dari peran jiwa.

Orang-orang yang sadar dan waspada (bahasa Jawa: eling lan waspodo) tidak akan terkecoh semudah itu. Di dalam sejarah peradaban manusia sejak dulu, di setiap jaman di segala bangsa, selalu saja ada manusia-manusia yang melakukan pencarian terhadap hakikat (the seeker, al-murid). Mereka tak henti-hentinya melakukan perjalanan (suluk) menelusuri relung-relung kehidupan manusia hingga ke kedalaman jiwanya, menembus pemikiran dan perasaannya, keinginan dan hasratnya, hingga ke pusat kesadaran dan keyakinannya. Mereka tak mau terjebak oleh pengalaman-pengalaman fisik belaka. Karena:
Melihat adalah terbutakan oleh warna
Mendengar adalah tertulikan oleh suara
Mengecap adalah terhambarkan oleh rasa

Para penjelajah itu sering disebut sufi, avatar, santo, budha, dan lain-lain. Mereka membawa cahaya, bukan warna; membawa makna, bukan suara; membawa pengalaman, bukan rasa. Orang-orang seperti ini selalu ada, meski seringkali tersembunyikan oleh gemuruh mesin-mesin modernisasi.

Sejarah juga membuktikan, tidak ada penguasa atau raja tertinggi di suatu negeri yang tak berguru dan tak berkonsultasi kepada orang-orang seperti itu. Di Romawi para kaisar selalu memiliki filosof-filosof yang menjadi konsultannya. Raja-raja jawa selalu memiliki resi dan begawan tempat bertanya. Para kepala suku Indian, juga di Afrika dan pedalaman Irian, selalu didampingi para dukun tempat bertanya kapan memulai sebuah perburuan, bahkan peperangan. Karena bagi mereka, yang sering disebut ‘orang-orang primitif’, peperangan pun bernilai sakral, tidak lepas dari kerangka spiritualitas, apalagi semata didorong hasrat keserakahan.

Kini banyak manusia di dunia, khususnya muslim di negeri-negeri Islam, merasa sakit. Sakit karena merasa tertekan oleh kejayaan material bangsa-bangsa Barat. Sakit karena merasa miskin dan tertindas. Sakit karena merasa tak mampu memunculkan rasa aman di dalam diri sendiri. Sakit karena konflik-konflik internal di tubuh umat seakan tak ada habisnya. Bayangkan, bagaimana sakitnya mata saat tersilaukan oleh cahaya yang sangat kuat. Cahaya itu adalah cahaya materialisme, sekulerisme, dan hedonisme. Cahaya yang mengundang dan menjanjikan banyak kebahagiaan, tetapi ketika di dekati membakar hangus jiwa-jiwa yang sudah meradang, merobek-robek cinta dan kemanusian yang luhur, lalu membatukannya menjadi bara dengki dan keserakahan, melumerkannya menjadi jelanta marah dan kebencian.

Sakitnya umat ini karena mengekor Barat, mengejar keunggulan materialisme dan hedonisme sambil mengabaikan spiritualitas yang diwariskan oleh para ulama salaf. Tengoklah lagi sejarah penyebaran Islam ke berbagai pelosok dunia. Islam dibawa oleh para pedagang dan para sufi pengelana. Bahkan ketika dunia Islam berjuang memerdekakan diri dari kolonialisme di awal abad 20, tokoh-tokoh perlawanan Islam yang berjuang di sepanjang koridor Marokko- Merauke didominasi oleh para sufi. Di Indonesia, Islam dibawa masuk oleh para sufi, disemaikan di bumi pertiwi oleh para sufi, dikawal melewati masa Hinduisme dan konialisme oleh para sufi, bahkan dibangkitkan kembali di awal kemerdekaan oleh para sufi. Sayangnya kesufian mereka tak banyak diketahui orang, karena mereka lebih menampakkan peran nyata sebagai politisi, guru, dan tokoh masyarakat. Ironisnya, justeru akhir-akhir ini lebih banyak juru klenik dan dukun magik yang mengaku sufi. Hal demikian ini menyebabkan banyak muslim Indonesia merasa asing dengan tasawuf, dan banyak yang terperangah heran ketika wacana-wacana ketasawufan diangkat kembali.

Tak ada bangsa yang menjadi besar dengan mengabaikan nilai-nilai luhur yang pernah menjayakan mereka di masa lalu. Umat Islam tak akan menjadi umat yang kokoh manakala mengabaikan nilai-nilai luhur aqidah, syariah, dan tasawuf. Muslim masa awal berjaya karena mendapat bimbingan langsung dari Nabi Muhammad s.a.w. yang sebagai rasululullah menjalankan tiga fungsi: tilawah (membacakan ayat-ayat Allah), tazkiyah (mensucikan jiwa orang-orang yang mengikutinya), dan ta`lim (mengilmui mereka dengan hukum dan hikmah)- lihat QS al-Jum`ah/62:2.

Saat ini tilawah sudah banyak digantikan oleh teknologi multi media berupa buku, kaset, internet, VCD, dan lain-lain. Ta`lim masih banyak dilakukan oleh para ustadz di berbagai majlis taklim. Persoalannya adalah siapa yang men-tazkiyahumat ini? Dulu para sahabat nabi sebelum mendapatkan taklim yang membuat mereka paham tentang banyak hukum dan hikmah, mendapatkan tazkiyah lebih dulu, sehingga dengan jiwa yang suci mereka mudah memahami isi taklim dan termotivasi kuat mengamalkannya. Kini umat belajar agama dengan duduk di depan perangkat multi media, dibimbing taklim oleh para mu`allim, tapi karena jiwa-jiwa mereka belum ter-tazkiyah-kan, lalu apa jadinya? Banyak informasi yang didapat tapi tak menjadi pengetahuan yang membuat orang dapat memahami relitas dengan cepat dan membuat keputusan dengan tepat. Banyak hukum dipahami namun membuat orang sibuk berdepat saling menyalahkan, akhirnya yang muncul kemarahan dan kebencian, sementara pengamalan terlewatkan. Hikmah banyak diwacanakan tapi sebatas bualan yang tak terasakan.Tashawuf dan sufi tak ternafikan dalam sejarah, tak terelakkan di masa sekarang dan mendatang.