Wednesday, October 31, 2007

Orang-orang Yang Tertipu

Source: www.radix.co.id / www.qalbu.net

Berfikir yang baik adalah yang objektif, artinya pemikir tidak melibatkan perasaan dan pengalamannya dengan obyek yang difikirkan. Obyek selalu berada di luar diri pemikir dan pemikir tidak masuk kedalam obyek. Filosof yang baik adalah pemikir yang selalu membuat jarak dengan obyek fikirannya, ia cukup “to sit and to think from outside”.

Berbeda dengan seorang sufi, ia melibatkan perasaannya, berjalan mendekat dan menyatu dengan obyek untuk “mengalami” obyeknya, bahkan ia “menjadi” (seperti) obyeknya. Menjadi sufi berarti harus “to walk, to experience and to become”. Ada pelibatan diri, penyertaan kesadaran dan perasaan, sehingga sufi tumbuh “menjadi” bersama obyek kesufiannya.

Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 191 dengan jelas membedakan antara fikir dan dzikir.
Dzikir selalu diorientasikan kepada Allah SWT yang transendental, sedangkan fikir selalu diorientasikan kepada ’kejadian-kejadian langit dan bumi’ yang fenomenal. Karena itu, kalau fikir menggunakan pendekatan empirik, struktural dan logik; maka dzikir tidak membatasi dan memang tidak boleh terpaku, pada empirisme, struktur dan logika. Dzikir tidak terpaku pada bentuk dan warna, susunan atau komposisi, serta hubungan-hubungan sebab-akibat. Ia adalah proses dinamis yang dibiarkan mengalir begitu saja seperti arus sungai pegunungan yang menuruni lembah, kadang bergolak bergejolak atau berputar menjadi sebuah turbolensi yang menyedot apa saja yang ada di dekatnya.

Para Sufi sering menyebut berfikir sebagai ”berjalan” dan berdzikir sebagai ”terbang”. Terbang tak menghajatkan adanya langkah-langkah sistematik karena terbang adalah gerak quantum yang melonjak-lonjak, kadang melesat kadang berputar, kadang melayang kadang menukik tajam. Perhatikanlah gerak kupu-kupu yang sedang menari-nari di taman bunga, itulah berdzikir.

Dengan berfikir filosof mencari makna atas obyeknya (hushuli), dengan berdzikir sufi memperoleh makna dari obyeknya (hudhuri). Imam Ghazali letih mencari-cari dengan filsafatnya lalu mendapatkan kesejatian dengan kesufiannya. Ia mengalami ketersingkapan (al-Kasyf) dan mendapatkan kejelasan (at-Tabyîn) dari apa yang selama ini banyak membuat manusia terkecoh (al-Ghurûr). Maka lahirlah bukunya Al-Kasyf wa At-Tabyîn fî Ghurûr Al-Khalqi Ajma’în yang dalam Bahasa Indonesia berarti ”Orang-orang Yang Tertipu”.

Sepanjang orang hanya berfikir orang akan mudah terkecoh. Fikiran memang membuat mata terbuka lebar menangkap pemandangan yang luas, tapi belum tentu membuat jiwa memahami kedalaman makna yang hakiki dari apa yang dilihat dan dikerjakan. Orang-orang yang hanya sibuk berfikir, baik kafir maupun mukmin, tertipu oleh fikirannya. Orang-orang yang bermaksiat dan beramal shalih, banyak yang tertipu oleh kaidah-kaidah syariah yang difikirkannya. Begitu juga dengan ulama dan ahli ibadah, orang-orang kaya, bahkan para sufi pun banyak yang tertipu oleh fikiran dan prasangkanya.

Jangan-jangan Anda juga bisa tertipu...

4 comments:

Wafa said...

assalamua'laykum...
pak ustadz minta copy paste artikelnya, belajar nulis masih belum bisa-bisa, mohon pencerahannya.terima kasih

saidea said...

jadi bagaimana agar tidak berada dalam ketertipuan.?

asep said...

Tiba sdh saatnya TQN mmiliki seorang yg mampu menjabarkan dzikir secara ilmiah .


moga pak kyai slalu diberkahi Allah

asep said...

Telah tiba masanya TQNmemiliki seseorang yg mampu menjabarkan tarekat TQN dg bahasa secara ilmiah dan dapat dipahami semua org